Pages

Friday, October 17, 2014

15 menit

Injak pedal, lepas. Injak. Ganti moderato. Ritardando di akhir. Repeat. Setiap rabu malam, selama tiga puluh menit, berkuat dengan nok balok dan tuts hitam putih. Ikuti tempo. Injak pedal. Forte. Lagu pertama, lagu kedua, lagu penutup.
"Drrt..drrrt"
Getar telepon genggam membuyarkan konsentrasinya. Pikirannya berubah, yang tadinya menyanyikan nada nada minor menjadi nada nada cinta, setelah ia melihat nama sang penelpon di layar ponsel. Segera, ia menjawab telepon itu.

"Halo?" .
"Hey, gue bosen" 
"Ya terus kenapa?"
"Pengen ngobrol, langsung. Gue kerumah lo ya."
"Sekarang?? udah malem"
"Yaa gapapa kan? Sebentar kok."
"Hmm yaudah sebentar oke juga."
"15 menit lagi gue di depan rumah lo."
"Emang tau dimana?"
"Ohiya, dimana ya rumah lo?"
"Dimana ya.."
"Whatsapp in alamatnya ya?"
"Engga ah. Cari tau sendiri oke."
"Ngga oke lah. masa cari sendiri??"
"Dadahh!"

Seperti itu saja. Sebegitu saja. Memang sudah begitu sifatnya. Kalau mau, usaha dulu, jangan terbiasa meminta bantuan orang lain. Baginya, tidak ada yang tidak mungkin. Segala sesuatu yang dilakukan sepenuh hati, pasti akan terwujud. Ia percaya itu. Ia percaya 'dia', sang penelpon itu. Ia peraya 'dia' akan mencari. Ia percaya 'dia' akan menemuinya 15 menit dari sekarang. Tak lamun, pikirannya kembali sibuk dalam tangga nada minor. Ia menuruti kata hatinya, untuk menunda menyanyikan untaian nada cinta itu. Hanya 15 menit, ia akan menyanyikan kembali nada nada cinta. Dan dalam hati kecilnya ia berharap, semoga 'dia', yang selalu menjadi inspirasi nada nada cintanya, akan menambah kumpulan nada tersebut. Yang nantinya, akan ia rangkai menjadi sebuah lagu.

5 menit berlalu. Ia sudah memasuki lagu kedua.

10 menit sejak menutup telepon, pikirannya mulai terganggu. Lagu ketiga dimainkan kacau.

3 menit dari 15 menit terakhir.

15 menit.

"Ting tong"

Ya, ia percaya, walau sejujurnya, ia tidak mudah percaya. Tapi 'dia', berhasil membuatnya percaya. Nada nada cinta mulai mengalun. Mengayun pintu, sambil berdoa agar hari ini nada cintanya berada di tempo tepat, dengan akhir yang sempurna.

"Ketemu juga kan."
"Iya, hebat bisa tau."
"Tadi muter-muter, udah kayak maling."
"Haha, tapi seru kan."
"Iya, udah gak bosen lagi."

Dalam hatinya, ia tahu pasti. Doanya akan terkabulkan. Nada-nada cinta ini, akan berada di tempo yang tepat. Berbaris rapi di garis birama, berlembar-lembar, dan menjadi sebuah buku lagu. Dan di akhir lagu itu, segala kenangan, mulai dari hari Rabu ini, akan selalu abadi.