Pages

Monday, June 6, 2022

Tujuh nyawa

 Seakan akan paling tahu,

Perihal hal hal yang terlampaui mata,

Dikaitkan yang dulu dulu,

Menarik titik temu terlalu dini.


Walau aku kaku,

Yang kuat kata mereka,

Pelan pelan ternyata runtuh,

Mengingkari asa tubuh.


Andai… manusia bernyawa tujuh.

Saturday, September 25, 2021

Ikhlas akan mata

"Bapak ini matanya sudah tidak bisa diselamatkan"

"Mungkin kalau pas mulai tidak bisa lihat langsung kesini masih bisa.. tapi ini sudah terlalu berat kerusakannya"

Kemudian hening

Istriku mulai menangis

..............

"Maaf ya bu, bapak telat berobatnya.."

Friday, April 23, 2021

Pertemuan dengan Pelukis

Tempat sore itu penuh jeritan, katanya sih sudah biasa begitu, biarkan saja nanti juga diam.
Itu kata dokter yang berjalan di depan ku.
Ia menyuruh ku menunggu di bawah sementara ia ke ruangannya di lantai 2.
Di tempat tunggu itu ada bapak tua sedang duduk bersila di pojok.
Matanya fokus pada kertas di depannya.
Tingkahnya seperti anak kecil, sesekali ia berceloteh, persis sepupu ku yang baru 4 tahun.
Kepada ku ia menyapa apakah aku juga pelukis?
Kertas yang ternyata bergambar dua gunung dengan matahari di tengah itu diacung acungkan ke depan ku.
Kemudian ia mulai berceloteh, kali ini kepada ku.
Sesekali aku balas, disana sini menanggapi dengan serius.
Ia kemudian bertanya apakah aku melihat anak nya?
Saat itu lah seorang suster datang, menarik pria tua itu sambil memasang wajah meminta maaf kepada ku.
Ingin rasanya aku bilang bahwa kami sedang bersenang-senang, tolong jangan diganggu.
Tapi ia berlalu dengan cepat, suster itu, bersama si pelukis.
Dokter turun dari ruangan nya, menyuruh ku cepat cepat mengikuti.
Tapi tidak masalah, lambat nanti pun aku pasti kembali.
Bukan karena lukisannya bagus, sedikit saja aku masih ingin berbicara dengan ia yang fisik dan jiwa nya seperti antonim, dan mungkin dengan teman-temannya jika mereka tidak keberatan.

(Sore hari di Poli Jiwa Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang)

Sunday, June 7, 2020

Tentang Bhisma

Ia berbeda dari yang lain.
Ia mengenakan kewajibannya pada sekujur tubuhnya:
pada matanya,
pada caranya meletakan tangannya di pundak seseorang,
pada kebiasaannya untuk tidak membiarkan tatapannya lekat pada apapun yang bisa membuat dirinya jatuh cinta.

Dikutip dari: Amba, oleh Laksmi Pamuntjak

Kepada para saksi

Sementara Margonda ada di bawah sana, ramai seperti biasa. Manusia manusia larut di dalam nya, bersama sepotong cerita yang teriris iris oleh lampu merah dan amarah

Kepada saksi malam itu: tulang ayam, piring kotor, mas mbak di meja sebelah, semoga kalian selalu baik.

Terimakasih sudah terlibat dalam cerita kami yang entah bagaimana ujung nya nanti.

Friday, May 15, 2020

Mungkin terlalu jauh dari mimpi

Aku rasa hanya pada malam-malam tertentu hal ini terjadi
Malam dimana aku memimpikan diriku sebagai orang lain
Bukan sepenuhnya lain, mungkin beberapa dengan sudut yang berbeda
Seperti dalam tumpukan buku atau kamar aroma basah hujan

Bisa jadi semua itu belum tentu benar
Harapan ku pun belum semuanya pasti salah juga
Tapi sering kali aku kembali bertanya-tanya
Kemanakah ia seharusnya pegi, bersama tenang atau gairah?

Kerap kali aku coba untuk mengiringinya
Berbagi bersama, mungkin satu dua kali terlibat jauh
Tapi seperti gelas yang tidak pernah penuh,
Lagi-lagi ia memberiku garis peringatan, yang seolah-olah berkata:
"Mau kemana kamu dengan mimpi-mimpi itu?"
Tentu saja aku hanya bisu
Atau barangkali memang belum saatnya jawaban muncul

Seperti ini kah, seharusnya aku menghidup?
Karena sebenar-benarnya ruh itu, bukan kah seharusnya ia dalam damai?
Atau mungkin sudah terlalu kuat belenggunya,
Untuk sekedar menghidupi egonya untuk manusia lain
Yang barangkali, belum tentu salah juga
Namun mematikan yang lain yang sejati

Mungkin aku hanya perlu untuk tetap terjaga
Seperti yang dikatakan oleh buku:
"Hidup itu bersejarah, siang malam ia tumbuh, berliku mengiringi asa, simpan saja dulu rasa itu, biarkan ia mengalir seperti air yang tak beriak, hingga jiwa-jiwa itu dapat mengkokoh dalam batin mu."

Dan sepertinya pula itu mungkin hanya angan-angan ku
Bukan salah juga jika pada malam malam terntentu aku begini
Tapi aku bukan nya tidak bahagia,
hanya mungkin terlalu jauh dari mimpi

Tuesday, May 5, 2020

Sembunyi

Memperhatikan mu yang suka nya malu-malu
Sembunyi mu dalam pikiran pikiran lara
Padu ia memaku mu dalam tunduk prihatin
Kata nya sinar mu tidak pantas untuk dipilih
Kata nya juga aku terlalu matahari.

Lantas kenapa jika aku seperti matahari?
Aku sudah menyukai mu yang seperti bulan,
Bersinar secukup nya saya tidak apa-apa.

Thursday, April 23, 2020

Kalau kamu, mungkin

Kalau kamu Bunda ku, mungkin kamu bakal bisa baca pikiranku
Atau bisa jadi kamu akan punya kekuatan untuk melihat ku dari jauh;
Mendengarkan kata kata yang bersembunyi dari bibir ku
Yang hanya berputar putar di bawah tempurung kepala.

Mungkin kamu adalah panggilan telfon tiba tiba yang datang saat aku sedang sakit
Atau mungkin akunya saja yang sekejap melunak saat mendengarkan nasehat mu
Walau tidak aku kerjakan
Hanya ngangguk ngangguk ngangguk sampai hampir lepas kepala ku.

Barangkali, Sayang, kamu tidak usah jadi Bunda ku
Bukan nya aku akan repot kalau punya dua
Tapi aku sudah bersyukur kok punya satu

Kamu tidak perlu memarahi ku karena nanti aku takut
Kamu juga tidak perlu merendam ku dalam bayclin
Aku juga ingin memutihkan diriku sendiri kok
Jangan menuntut ku, ya?

Biarkan saja aku jadi apa yang aku mau
Biar juga kamu jadi apa yang kamu mau

Dan,
Kita dapat tetap merencana bersama, kan, sayang?
Karena barang kali mau kita bertemu

Puisi ini ditulis oleh Daffa, laki-laki di tulisan "Jogja" di post sebelum ini. Aku post di sini karena suka. Sudah izin dia juga katanya tidak apa. 
Ohiya, dia juga suka menulis. Kalau tertarik, bisa dibaca tulisan nya di https://ranudharma.wordpress.com/

Sunday, April 19, 2020

Jogja

Saya selalu suka suasana malam di Jogja. Entah karena gemerlap dari lampu warung tenda, atau karena suara pengamen disini rasanya sepuluh kali lebih baik dari pengamen di kota asal saya.

Kalau bicara musim, hari itu memang sedang di tengah-tengah kemarau. Tapi rasanya cuaca malam itu cukup bersahabat. Hangat dan cukup berangin.

Kami duduk berhadapan di warung angkringan pinggir jalan. Ia memesan nasi kucing dua bungkus dengan teh manis hangat. Ia merasa tidak enak karena saya tidak memesan apa-apa, hingga akhirnya saya memesan teh manis hangat untuk menemani nya makan.

15 menit yang lalu, ia menelpon saya mengabari sudah di depan hostel tempat saya menginap. Hari itu adalah kali pertama kami berbicara lewat telefon. Dan kali pertama kami bertemu sejak 7 tahun lalu.

Setelah sedikit berkeliling menggunakan motor nya, akhirnya kami menepi di warung yang katanya merupakan langganannya sejak SMA.

Ada banyak kekhawatiran saya malam itu. Kami memang sudah mengenal dari lama, tapi kami tidak pernah benar-benar berbincang, rasanya bahkan tidak pernah  saling menyapa.

Namun entah bagaimana, kami bisa banyak bercerita malam itu.

Awalnya seputar hal-hal biasa. Bagaimana kuliah, kehidupan, dan macam-macam nya. Aku suka caranya bercerita, ia bisa membuat mu berfikir seolah olah cerita hidup nya sungguh menarik. Walau memang saya akui, ia memiliki pola pikir yang cukup unik dengan kenekatan nya.

Ada banyak yang saya dapatkan malam itu. Tentang dia, dan saya sendiri. Saya adalah pendengar yang baik, namun bukan pencerita yang baik. Entah apa yang saya racaukan malam itu, entah apakah ia mengerti atau tidak. Tapi dari caranya merespon sepertinya ia juga senang mendengarkan cerita saya.

Kami masih saling bercerita, 10 bulan setelah percakapan di Jogja itu. Dan saya tidak pernah menyesal memilih untuk tetap bertahan mendengarkan ceritanya.

Saturday, October 5, 2019

Macam

pada setiap buku yang kubaca, punya kenangan dan rasa tersendiri.
satu misalnya, yang selalu ingin dibaca ulang
lain lagi, yang pada lembar nya kuisi tanda-tanda pengingat
ada juga yang kata nya hanya terbaca separuh, karena separuh sisa ada dua macam; pertama ia terlalu berat, kedua aku sadari tidak semua kata-kata memang bisa aku nikmati.

Kiri


Kepada malam yang terlalu hati-hati
Menutup mata tapi menolak pergi
Kepada kamu yang ke kiri-kiri
Tetap lah memaknai arti


Sunday, July 14, 2019

Batik kumudowati api
Membara 8 warna
Kuning mencegah ngantuk
Biru mencegah musibah
Hitam mencegah lapar
Hijau mencegah frustasi
Putih mencegah nafsu
Oranye mencegah ketakutan
Merah mencegah kejahatan
Ungu mencegah pikiran jahat
Kamu; mencegah?

-Solo, April 2019


Wednesday, June 26, 2019

Tuan baik

tuan baik, kita belum banyak membicarakan perihal kesukaan dan teman temannya
setiap bincang terasa tidak nyata karena angan mu aku tidak paham
dulu aku rasa, kebaikan mu saja cukup, bisa mengecualikan hal-hal lainnya
rasanya seperti membaca buku baru, saat di halaman ketiga aku rasa sungkan, tapi kuanjutkan saja hanya karena ingin tahu akhir nya berupa apa

tuan baik, aku sadar kamu begitu baik, semua orang juga pasti akan setuju
tutur kata mu pun santun, dengan pesan yang isinya tidak ada kesia siaan
hati hati dirimu melangkah, sekali dua menyisipkan manis manis buatan

awalnya aku pun masih bertanya sana sini
mana yang lebih penting rupanya, kebaikan itu sendiri apakah bisa selesaikan semua?
mereka jawab, ya, memang bisa, nanti yang lain akan mengikuti

maaf kan aku tuan yang baik, rupa rupanya aku masih tetap tidak bisa mendengar kata mereka
terimakasih untuk bincang bincang nya.

Wednesday, June 12, 2019

Kalau perasaan bisa bicara, apa kata pertama nya?

Barangkali Kelimutu akan kalah
Pada apa? Sama sama kita duga saja
Yang indah indah sudah biasa
Tidak ada pembanding bukan apa apa
Kemana akan pergi? Tentu saja lupa
Sibuk ku, sibuk mu, dan sibuk Nya
Baca lagi apa memang itu benar?
Kenyataan bukan keuntungan
Berharap pada kecil belum tentu besar
Semua nya fana, lantas mengapa?
Geraham maju, taring belum tentu
Seperti pasar, senja datang ia pergi
Waktu pun tidak berhenti
Jangan tanya aku ngomong apa
Kapan kapan saja kalau kamu sudah mau paham

Thursday, November 29, 2018


Rumit begitu rua
Bilangan tidak bisa terpecah

Kepala rasa mau pecah
Seperti yang sudah sudah saja

Akan sederhana jika kamu ada


Tuesday, November 27, 2018

you can't please everyone

Bisa dibilang saya ini super plegmatis
Saya rela menutup suatu kesalahan orang lain hanya supaya tidak timbul masalah setelah nya
Saya rela  menggantikan tugas orang lain hanya supaya kelompok kami tidak terpecah
Saya rela menghancurkan perasaan saya sendiri hanya supaya perasaan teman saya bisa tetap utuh

Sampai pada suatu titik; saya merasa hancur.

Karena seberapa banyak pun saya berkorban, people keep expecting.

Tidak peduli sekeras apapun usaha mu, akan selalu ada titik kesahalan yang melemahkan mu.

Dunia tidak bisa bisa sedamai itu.

Begitu pula saya, tidak sekuat yang dikira.

Sekarang, saya belajar untuk menghargai perasaan diri sendri.
Saya belajar saya pun pantas bahagia, dan kebahagiaan saya tidak harus selalu berpatuh pada kebahagiaan orang lain.
Saya sekarang mengerti cara untuk please my self, buka hanya please everyone.

Saya belajar menunjukan emosi saya
Saya beranikan diri untuk membuka diri saya
Saya mencoba untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan pada hal tertentu
Saya berlatih untuk berkata tidak, jika saya merasa tidak nyaman.
Saya melatih diri untuk menerima rasa benci dan tidak suka dari orang lain.

Hingga saya pun tersadar: ternyata mereka pun bisa mengerti.

Mereka akan tetap berkomentar, itu pasti.

Tapi dengan keyakinan diri, saya tidak lagi mempedulikan komentar mereka.

Cukup dengarkan, koreksi apakah relevan, tidak perlu selalu dimasukan dalam hati.

Berkat itu, sekarang saya bisa berdiri sebagai diri saya sendiri.

I'd never feel like my self until now.

You can't please everyone, so just go on, and show who you really are. People will keep expecting, but it's ok to feel a little hate :)

dengan apa lagi

Seperti ada perasaan hangat yang mengalir di seluruh tubuhku
Setiap kali aku melihat nama mu muncul 
Dengan membawa canda yang selalu kau tuturkan
Yang kemudian menuai berbagai tanggapan dari yang lain
Dan kamu akan menjawab nya dengan santai
Seperti dulu saat canda itu masih ada untuk ku

Karena dengan apa lagi aku bisa tahu?
Jika raga mu saja aku semakin lupa?


Friday, November 23, 2018

A


Hancur kenapa
Selama nya begini ka
Ingin namun sia
Katanya tidak peka
Hanya ada tidak apa
Lepas begitu saja
Tanpa tanya mengapa
Seperti tak berguna
Biar begini saja

Tuesday, November 6, 2018

kadang kadang saja, belum selalu

Aku juga mau
Punya teman bersama
Untuk makan dan nonton
Tapi belum selalu
Cuma kadang kadang
Jadi tunggu aja
Aku masih betah begini