Tempat sore itu penuh jeritan, katanya sih sudah biasa begitu, biarkan saja nanti juga diam.
Itu kata dokter yang berjalan di depan ku.
Ia menyuruh ku menunggu di bawah sementara ia ke ruangannya di lantai 2.
Di tempat tunggu itu ada bapak tua sedang duduk bersila di pojok.
Matanya fokus pada kertas di depannya.
Tingkahnya seperti anak kecil, sesekali ia berceloteh, persis sepupu ku yang baru 4 tahun.
Kepada ku ia menyapa apakah aku juga pelukis?Kertas yang ternyata bergambar dua gunung dengan matahari di tengah itu diacung acungkan ke depan ku.
Kemudian ia mulai berceloteh, kali ini kepada ku.
Sesekali aku balas, disana sini menanggapi dengan serius.
Ia kemudian bertanya apakah aku melihat anak nya?
Saat itu lah seorang suster datang, menarik pria tua itu sambil memasang wajah meminta maaf kepada ku.
Ingin rasanya aku bilang bahwa kami sedang bersenang-senang, tolong jangan diganggu.
Tapi ia berlalu dengan cepat, suster itu, bersama si pelukis.
Dokter turun dari ruangan nya, menyuruh ku cepat cepat mengikuti.
Tapi tidak masalah, lambat nanti pun aku pasti kembali.
Bukan karena lukisannya bagus, sedikit saja aku masih ingin berbicara dengan ia yang fisik dan jiwa nya seperti antonim, dan mungkin dengan teman-temannya jika mereka tidak keberatan.
(Sore hari di Poli Jiwa Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang)