Pages

Sunday, April 19, 2020

Jogja

Saya selalu suka suasana malam di Jogja. Entah karena gemerlap dari lampu warung tenda, atau karena suara pengamen disini rasanya sepuluh kali lebih baik dari pengamen di kota asal saya.

Kalau bicara musim, hari itu memang sedang di tengah-tengah kemarau. Tapi rasanya cuaca malam itu cukup bersahabat. Hangat dan cukup berangin.

Kami duduk berhadapan di warung angkringan pinggir jalan. Ia memesan nasi kucing dua bungkus dengan teh manis hangat. Ia merasa tidak enak karena saya tidak memesan apa-apa, hingga akhirnya saya memesan teh manis hangat untuk menemani nya makan.

15 menit yang lalu, ia menelpon saya mengabari sudah di depan hostel tempat saya menginap. Hari itu adalah kali pertama kami berbicara lewat telefon. Dan kali pertama kami bertemu sejak 7 tahun lalu.

Setelah sedikit berkeliling menggunakan motor nya, akhirnya kami menepi di warung yang katanya merupakan langganannya sejak SMA.

Ada banyak kekhawatiran saya malam itu. Kami memang sudah mengenal dari lama, tapi kami tidak pernah benar-benar berbincang, rasanya bahkan tidak pernah  saling menyapa.

Namun entah bagaimana, kami bisa banyak bercerita malam itu.

Awalnya seputar hal-hal biasa. Bagaimana kuliah, kehidupan, dan macam-macam nya. Aku suka caranya bercerita, ia bisa membuat mu berfikir seolah olah cerita hidup nya sungguh menarik. Walau memang saya akui, ia memiliki pola pikir yang cukup unik dengan kenekatan nya.

Ada banyak yang saya dapatkan malam itu. Tentang dia, dan saya sendiri. Saya adalah pendengar yang baik, namun bukan pencerita yang baik. Entah apa yang saya racaukan malam itu, entah apakah ia mengerti atau tidak. Tapi dari caranya merespon sepertinya ia juga senang mendengarkan cerita saya.

Kami masih saling bercerita, 10 bulan setelah percakapan di Jogja itu. Dan saya tidak pernah menyesal memilih untuk tetap bertahan mendengarkan ceritanya.