Pages

Sunday, February 22, 2015

Kantung Pelastik Merah

Kawanku yang dermawan, maafkan aku harus menyampaikan kisah ini. Bukan sebuah angan-angan belaka, melainkan rekaya sebuah kisah nyata yang dihidangkan dengan segenggam mimpi. Aku harap kalian bisa memaklumi.

Hari itu, tidak ada sekolah. Tapi yah, aku harus tetap ke sekolah sih. Bukan buat belajar memang, tapi tetap saja ke sekolah. 

"Orang kerja aja sabtu libur. Kamu malah sekolah sampe minggu." itu ibu ku yang bilang. Wah ibu, kalau ke sekolah untuk belajar sih sampai mati aku tidak akan kamu. Tapi ini kan, bukan belajar. Jadi tolong tetap izinkan aku ke sekolah ya, bu.

Sampai sekolah yah biasa saja. Paling rapat OSIS, atau kumpul ekskul. Hari ini sih aku ada janji sama mamang sekolah. Mang Udin namanya. Katanya dia mau kasih aku oleh-oleh dari kampung nya. Mana mungkin aku tolak kan?

Mamang memang sengaja suruh aku ke sekolah hari Minggu, biar spesial katanya. Bukan geer sih, tapi kayaknya mamang cuma kasih oleh-oleh nya buat aku. Soalnya anak-anak lain gak ada tanya atau omong. Padahal biasanya kalau mau kumpul sama mamang grup whatsapp pasti rame. Ah, itu dia mang Udin.

"Mang!" Gak ada siap-siapa disitu. Mang udin duduk sambil merokok, disamping nya ada bungkusan plastik warna merah.

"Woi, cucok!" Mang Udin nawarin rokok satu, tapi ya aku tolak lah, dengan sopan tentunya. Aku kan tidak merokok.

"Saya kira ajak anak-anak yang lain. Cuma ada saya ternyata." 

"Halah, sok sibuk anak lain itu. Lagian mamang ada omongan sama kamu, cok." 

"Omongan perihal plastik merah ini kan, mang?" bercanda tentu saja. Mana mungkin aku se kurang ajar itu

"Ambil itu plastik. Oleh-oleh dari Medan itu kan sudah kubilang kemarin." 

"Makasih lah, mang." 

"Buka dirumah saja itu. Sekarang aku pengen omong-omong sama kau, cok."

"Siapa perempuan yang pernah kau cerita kan itu? Nisa?" Oh ngomongin Nisa rupanya.
 
"Iya, mang. Nisa namanya. Kenapa dia?"

"Kemarin dia kesini, cari kau katanya."

"Wah, benar gitu, mang?"

"Kemana kau kemarin? Dia bilang telepon mu mati."

"Ah biasa mang. Saya kemarin kan lagi cari sponsor buat pensi. Telpon saya matiin lah gak enak kalau nada dering nya kedengar pihak sponsor."

"Kau itu, sibuk boleh tapi jangan lupa diri. Jarang perempuan macam Nisa itu, harus kau jaga baik-baik."

"Saya gak ada apa-apa sama Nisa, lah mang."

"Omong saja terus kau. Mana ada laki-laki yang tidak suka sama Nisa itu. Cantik dia."

"Haha, cantik emang mang. Tapi bukan tipe saya ah."

"Gitu? tidak nyesal kau nanti?"

"Menyesal buat apa lah mang?"

"Sekarang sibuk benar kan kau. Tapi nanti kalo sibuk mu hilang baru sadar kau kalau kehilangan Nisa juga."

"Haha, Nisa mulu mang. Sudah ah, saya balik mang. Eh iya, makasih ini oleh-oleh nya. Enak nih yang ini pasti."

"Buka di rumah itu plastik. Hati-hati bawanya, agak berat."

"Yuk, mang."


************************************