Pages

Sunday, April 26, 2015

Sunyi yang Menyenangkan

"Jangan lupa keluar rumah sebentar, langit sore ini indah."

Aku tersenyum membaca pesan yang baru ku kirim. Sudah seminggu sejak aku mendadak menjadi reporter cuaca, melaporkan cuaca hari ini kepada dia yang kemudian selalu membalas:

"Sudah, kapan-kapan kita harus liat bareng ya!"

Senyum ku mengembang lagi saat membayangkan hal itu. Melihat langsung langit dan membicarakan lewat pesan adalah hal yang berbeda. Disini aku bisa terus berceloteh dan menjadi manusia paling cerewet yang pernah ada, tapi setiap bertemu rasanya susah betul untuk sekedar berkata 'halo'. Lidah ku terasa mati rasa dan satu-satunya suara yang bisa kudengar adalah degup jantung ku yang tak bisa tenang.

Dia pun ku rasa sama. Aku ingat wajahnya yang menunduk saat menyapa ku, dan bagaimana ia berkali-kali memasukan tangannya ke saku untuk menyembunyikan gemetar di ujung jemari.

Saat kami bertemu pun tidak pernah ada percakapan yang berarti, hanya pertanyaan remeh seperti "Kamu anak keberapa?" "Tahu lagu ini nggak?" yang berakhir terlalu cepat karena diantara kami tidak ada yang bisa melekatakan titik manis dalam percakapan.

Selebihnya, hanya ada sunyi. Sunyi yang menyenangkan, karena aku tahu dia pun menikmati kesunyian itu.

Kami mungkin tidak bisa menciptakan percakapan manis seperti lainnya, tapi menemukan kenyamanan dalam kesunyian itu rasanya sudah cukup.