Pages

Sunday, April 5, 2015

Tuhan dan Rembulan

Suatu hari rembulan berkata kepada Tuhan:

"Tuhan, sudah lama aku setia memutar bumi. Menyinari nya saat matahari pergi. Tapi lihat apa yang manusia-manusia itu lakukan di bawah sana. Mereka lupa ada aku diatas sini."

Kemudian Tuhan menjawab:

"Aku berikan kau satu kesempatan untuk marah. Tidak marah dengan amarah namun kepada gelap dan dingin. Putih mu akan menjadi merah. Dan sinarmu akan terlihat seperti tembaga yang terbakar. Manusia itu kelak akan ketakutan melihat nya."

Rembulan pun kembali berucap:

"Tapi Tuhan, aku tidak ingin ditakuti. Aku sedih, tapi tidak pula ingin ada ketakutan karena aku."

Tuhan kemudian membalas:

"Bukan menakuti, namun mengingatkan. Membahagiakan yang lain itu baik, namun jangan lupakan kebahagiaan mu sendiri. Dan kau tidak menakuti, hanya mengingatkan. Karena hanya emosi lugas yang dapat melunturkan hati dingin manusia. Dan lugas mu itu tidak selalu, hanya sekali itu kau munculkan, dengan sinar tembaga terbakar."

Maka sejak saat itu, setiap sekian periode, rembulan akan melugaskan emosi nya. Dengan sinar tembaga terbakar, dan putih yang menghitam. Bukan untuk menakuti, tapi mengingatkan. Kepada manusia yang semakin tamak. Kepada manusia yang sering lupa. Lupa untuk bersyukur dan berterima kasih.