Seharus nya tidak seperti ini.
Bukan dia yang ada di sana, seharus nya aku.
“Rin, makasih ya. Kalau gak ada kamu aku gak akan ketemu
Aldi.”
Mulut nya terus bergerak, bercerita tentang apa yang baru
saja terjadi. Tentang Aldi yang tiba- tiba
datang dengan sebuket bunga, tentang puisi yang Aldi bacakan di depan pintu
rumah nya, tentang cincin yang
sekarang terpasang di jari manis nya.
“Aku gak nyangka Aldi ternyata bisa romantis.”
Tidak, itu semua saran ku. Bunga, cincin, dan puisi itu.
Ia berdiri dari kursi nya, berjalan ke arah dapur sementara mata
ku terpaku pada buket bunga di atas
meja. Aldi benar-benar menuruti saran ku, mawar putih dan aster merah muda.
Sepiring jeruk diletakan di sebelah buket bunga saat dia
kembali dari dapur. Aku menangkap kilatan
berlian di tangan kiri nya saat ia menggeser piring jeruk itu ke hadapan ku.
“Ini juga Aldi yang bawain. Katanya oleh-oleh dari Bandung.
Ngasal aja dia, sejak kapan jeruk jadi
buah khas Bandung?”
Bukan asal, jeruk buah kesukaan Aldi. Ia bisa makan belasan jeruk
tiap hari.
“Makan, Rin.”
Saat itu lah, ketika sepotong jeruk itu masuk ke mulut ku,
pipi ku terasa panas.
Seharus nya tidak begini.
“Rin, kamu nangis?”
Tidak, ia tidak boleh tahu.
“Nggak, ini jeruk nya, asam banget.”
Ia tertawa, pelan dan lembut. Sedikit pun tidak menyadari kebohongan
ku.
“Dasar emang si Aldi gak bener milih nya. Aku balikin ke
dapur dulu ya, kasian kalau nanti ada yang
nangis lagi gara-gara makan ini.”
Ia kembali bangkit dari kursi nya dengan sepiring jeruk yang
ku bilang asam.
Aldi tidak pernah salah soal jeruk, tapi dia tidak tahu tentang itu.
Hanya aku yang tahu.
Dia sahabat ku.
Dia dan Aldi, mereka sahabatku.
Dan mereka tidak perlu tahu.