Jumat, 20 Januari 2016
Di bawah sisa-sisa sinar matahari hari itu, aku berjalan menyusuri terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Sudah hampir gelap, membuat ku sedikit kesal jika mengingat seharusnya pukul ini aku sudah ada di rumah, kalau saja pesawat Malang-Jakarta tadi tidak delay selama satu setengah jam.
Setelah membeli makanan kecil dan sebotol air mineral di mini market, aku memasuki bus tujuan Depok yang dijadwalkan berangkat pukul 18.20
Aku memilih kursi samping jendela, kelima dari belakang. Bus itu sepi, baru ada lima enam penumpang selain aku. Tak lama, kami berangkat.
Bus itu berhenti di terminal 3. Beberapa penumpang kemudian naik. Mata ku menangkap seseorang di antara penumpang yang baru naik. Bukan apa-apa, tapi karena ia memakai ransel dengan merek yang sudah lama aku impi.
Penumpang kali ini cukup banyak, kursi-kursi kosong dengan cepat terisi. Dalam hitungan detik, tas ransel impi ku itu kini berada di sebelah ku, di pangkuan pemiliknya, seorang laki-laki yang kelihatan nya berusia 20-an.
Bus kembali berjalan, kali ini meninggalkan bandara, menuju Depok.
Kaku itu terasa ada. Apalagi ia, laki-laki di sebelah ku itu, duduk begitu tegak. Satu-satunya gerakan yang ia lakukan hanya memindah-mindahkan posisi tangan nya di atas ransel.
"Halo kakak"
Tiba-tiba anak kecil yang duduk di kursi depan menjulukan kepala nya ke arah kursi ku, sambil melebarkan tangan nya sepeti sedang bermain 'ciluk ba'. Aku tersenyum. Meladeni anak kecil bukan salah satu keahlianku. Beruntung, membalas 'ciluk ba' sambil tersenyum sekedarnya seperti nya sudah memuaskan anak kecil itu hingga ia kembali duduk di kursi nya.
Beruntung nya lagi, kejadian tadi seperti memecah kaku yang ada. Laki-laki di sebelah ku itu kini sudah duduk bersandar di kursi nya, terlihat lebih rileks dari sebelum nya. Ia lalu menyapa,
"Dari mana?"
"Malang. Kalau mas nya?"
"Surabaya. Di Malang kuliah?"
"Iya, hehe. Mas nya?"
"Kerja, dinas."
20 menit setelahnya, setiap kata mengalir tanpa ragu.
Ia alumni Smanti Depok, dan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November.
Dulu lahir di Padang, dan baru pindah ke Depok saat SMA.
Saat ini bekerja di perusahan elektro di daerah Tebet (jangan tanya apa nama perusahannya, dalam 5 menit aku langsung lupa karena namanya begitu asing). Ia sempat menjelaskan tentang pekerjaannya, bagaimana kerja seorang engineer yang sesungguhnya. Yang aku ingat hanya bagaimana ia terlihat begitu bahagia saat menjelaskan bidangnya. Passion nya itu, benar-benar nyata.
Selain itu dua hal yang membuat pembicaraan itu menyenangkan: kami sama sama suka naik gunung dan musik.
Awal aku tahu ia suka naik gunung itu, dari ransel nya. Tas gunung mahal yang dari dulu aku impi untuk beli.
"Mas, suka naik gunung ya?"
"Kok tau?"
"Itu tas nya, bagus haha."
Dan seterusnya, kami saling bertukar cerita perjalanan yang sudah kami lalui. Dan kami setuju pada satu hal: Rinjani itu terbaik.
Musik yang ia suka: Oasis.
Musik yang tidak kami sukai: aliran EDM.
Selera lagu ku memang agak 'jadul', tapi justru itu jadi nyambung dengan penyuka Oasis. Hehe.
Dan seterusnya percakapan terus berlanjut.
Macet Jakarta di Jumat malam itu, tidak jadi terasa jengkel karena aku ada teman bicara yang menyenangkan. Berawal dari sebuah delay pesawat, mungkin ini cara Tuhan untuk menguji kesabaran ku. Aku langsung diberi Nya hadiah berupa percakapan menyenangkan, yang aku pun belajar banyak dari itu.
Dunia kata yang menyenangkan itu, terhenti adanya saat bis berhenti di halte jalan Juanda, Depok.
"Saya duluan ya."
15 tahun yang ada di antara,
150 menit percakapan yang menyenangkan ini,
Semoga berulang.
