Pages

Sunday, April 8, 2018

Anak kelas sebelah

Semua berawal di pagi mendung. Hari itu hari Senin, upacara bendera tengah dilaksanakan. Pada bacaan sila pancasila yang ketiga, hujan deras tiba tiba muncul dari gulungan awan abu-abu di langit. Kepala sekolah segera memerintahkan kami untuk menepi ke koridor. 

Aku ada disana, diantara ratusan anak bertopi abu-abu, berlari sambil bercanda ria karena upacara selesai sebelum waktunya. Dia juga disana, seperti biasa berada di antara temannya. Tawanya paling besar, celotehannya mengundang tawa orang disekitarnya. Kami berteduh di koridor yang sama. Koridor depan UKS, sebelah selatan lapangan. Ia bersama anak kelasannya, aku bersama anak kelasan ku. 

Kami sama-sama tertawa, tapi untuk hal yang berbeda. Aku tertawa karena aku suka hujan, dan ia tertawa karena upacara selesai sebelum waktunya. 

Tepat pada saat itu, mata kami bertemu. 

Aku yang tertawa, ia yang banyak tingkah. 

Setahunya, aku hanya anak kelas sebelah yang banyak tertawa. Setauku, ia hanya anak kelas sebelah yang banyak tingkah. Yang kami tidak tahu adalah bahwa setelah pagi mendung kala itu, akan ada banyak hujan yang kami lewati berdua, yang sesekali dihadiri pelangi, menghias hari hari yang berlalu kemudian.