Halo.
Saya tahu ini sudah lewat hari ulang tahun mu, tapi ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk saya agar bisa mengingat segala memori tentang kamu. Dan malam ini rasanya saya siap, agak perih memang, tapi rasanya sudah mulai terbiasa. Kecil kemungkinan kamu akan membaca ini, kalau pun iya, tolong jangan katakan apa-apa lagi. Saya tidak butuh terimakasih atau kata maaf lagi. Karena itu, biarkan kali ini saya menulis segala yang saya ingin katakan kepada kamu, yang terlalu sulit untuk terucapkan, biarlah lewat tulisan ini lah segala nya tersampaikan. Ada kemungkinan saya akan menghapus tulisan ini suatu saat nanti. Karena itu, cukup kamu ingat dalam hati saja.
Selamat membaca, tulisan ini saya ciptakan khusus untuk kamu yang berulang tahun tanggal 7 Mei lalu.
Selamat ulang tahun.
Minggu-minggu ini saya begitu membenci kamu. Ternyata benar apa yang pernah kau katakan dulu, aku akan membenci kamu. Bukan benci yang amat sangat, ini bukan karena kesalahan mu. Mungkin lebih tepat jika dikatakan saya membenci keadaan kita saat ini. Rasanya benci jika mengingat setahun yang lalu, bagaimana keadaan belum seburuk sekarang. Mungkin ini hanya ego saya saja, karena begitu kolot mempertahankan apa yang saya sebut sebagai 'prinsip' hidup saya. Memaksakan kamu untuk hidup dalam 'prinsip' saya, walau saya tahu, kamu bukanlah orang yang bisa bertahan dalam 'prinsip' yang saya miliki. Hingga akhirnya, kamu menyerah dan memilih pergi.
Jika kamu tanya apa saya menyesal? Saya tidak menyesal. Karena saya yakin segala hal yang terjadi sekarang ini hanyalah bagian dari skenario milik Tuhan seorang. Tidak ada yang tahu akhirnya seperti apa, yang bisa saya (dan kamu) lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin memilih alur cerita yang terbaik. Berusaha terbaik menurut saya adalah dengan tidak menyakiti orang lain, tidak mengurangi kebahagiaan orang lain, dan tidak mengulang kesalahan yang sama. Tentu kamu tahu kisah masa lalu saya, dan semua alasan dibalik setiap 'prinsip' hidup yang saya pegang kuat bahkan hingga detik ini. Dan jika pada akhirnya kamu masih belum bisa memahami itu, saya semakin yakin bahwa cerita terbaik kita tidak berada di alur yang sama.
Dulu kita pernah berkata 'Kalau suatu saat harus berakhir, pilih akhir yang paling bahagia.' Namun ternyata kehidupan tidak semudah memilih lagu penutup dalam opera sabun. Lagu kita berakhir tiba-tiba, tanpa aba-aba dan persiapan. Terdengar sumbang, tapi terdengar indah di saat yang bersamaan. Dan kita bedalih dalam pertemanan. Bahwa segala sesuatu akan tetap berjalan baik, kita masih bisa berteman baik. Tapi siapa sangka justru itu malah semakin mendekatkan kita kepada jurang perpisahan?
Satu minggu sebelum kamu berulang tahun, saya sempat berniat menyiapkan hadiah untuk mu. Saya pernah bilang, saya punya sesuatu untuk diberikan pada mu. Saya sudah menyiapkan kotak hadiah dengan puisi-puisi yang dulu selalu kamu minta saya buatkan. Namun beberapa hari setelahnya, terjadi sesuatu yang membuat kepercayaan diri saya runtuh. Siapa saya sampai harus menyiapkan hadiah yang begitu spesial di hari ulang tahun mu? Saya merasa begitu kecil, merasa bodoh dan kosong. Mengapa selama ini saya begitu lugu dan naif? Masih mengharapkan kembang api kecil yang terkadang kau nyalakan, sementara kamu telah menyiapkan beribu bohlam untuk dinyalakan di ruangan lain?
Bahkan setelah begitu banyak bukti yang menyakitkan, saya tetap tidak bisa meninggalkan dirimu yang semakin menjauh. Sesekali kau bercerita tentang hari-hari mu yang kosong, yang semu, yang tidak sebahagia dulu. Dan saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin disaat kamu bercerita tentang kesedihan mu, saya selalu berusaha memberi dukungan dengan berpura-pura tegar dan bersimpati sementara saya sendiri sudah hampir kehabisan nafas takala air mata hampir selalu menghabisi ruang.
Saya bertahan, entah sampai kapan. Tawaran pelangi silih berganti datang, tapi entah bagaimana saya masih tetap bertahan dibawah hujan yang terus kau turunkan. Menanti hujan berhenti hingga menyisakan bau basah yang menyakitkan. Dan bila pada akhirnya hujan mu tidak mendatangkan pelangi, biar rasa ini terbiaskan oleh cahaya matahari hingga kering tak berbekas.
Sekali lagi, selamat ulang tahun.
Semoga hari-harimu menyenangkan.
Saya tahu ini sudah lewat hari ulang tahun mu, tapi ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk saya agar bisa mengingat segala memori tentang kamu. Dan malam ini rasanya saya siap, agak perih memang, tapi rasanya sudah mulai terbiasa. Kecil kemungkinan kamu akan membaca ini, kalau pun iya, tolong jangan katakan apa-apa lagi. Saya tidak butuh terimakasih atau kata maaf lagi. Karena itu, biarkan kali ini saya menulis segala yang saya ingin katakan kepada kamu, yang terlalu sulit untuk terucapkan, biarlah lewat tulisan ini lah segala nya tersampaikan. Ada kemungkinan saya akan menghapus tulisan ini suatu saat nanti. Karena itu, cukup kamu ingat dalam hati saja.
Selamat membaca, tulisan ini saya ciptakan khusus untuk kamu yang berulang tahun tanggal 7 Mei lalu.
Selamat ulang tahun.
Minggu-minggu ini saya begitu membenci kamu. Ternyata benar apa yang pernah kau katakan dulu, aku akan membenci kamu. Bukan benci yang amat sangat, ini bukan karena kesalahan mu. Mungkin lebih tepat jika dikatakan saya membenci keadaan kita saat ini. Rasanya benci jika mengingat setahun yang lalu, bagaimana keadaan belum seburuk sekarang. Mungkin ini hanya ego saya saja, karena begitu kolot mempertahankan apa yang saya sebut sebagai 'prinsip' hidup saya. Memaksakan kamu untuk hidup dalam 'prinsip' saya, walau saya tahu, kamu bukanlah orang yang bisa bertahan dalam 'prinsip' yang saya miliki. Hingga akhirnya, kamu menyerah dan memilih pergi.
Jika kamu tanya apa saya menyesal? Saya tidak menyesal. Karena saya yakin segala hal yang terjadi sekarang ini hanyalah bagian dari skenario milik Tuhan seorang. Tidak ada yang tahu akhirnya seperti apa, yang bisa saya (dan kamu) lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin memilih alur cerita yang terbaik. Berusaha terbaik menurut saya adalah dengan tidak menyakiti orang lain, tidak mengurangi kebahagiaan orang lain, dan tidak mengulang kesalahan yang sama. Tentu kamu tahu kisah masa lalu saya, dan semua alasan dibalik setiap 'prinsip' hidup yang saya pegang kuat bahkan hingga detik ini. Dan jika pada akhirnya kamu masih belum bisa memahami itu, saya semakin yakin bahwa cerita terbaik kita tidak berada di alur yang sama.
Dulu kita pernah berkata 'Kalau suatu saat harus berakhir, pilih akhir yang paling bahagia.' Namun ternyata kehidupan tidak semudah memilih lagu penutup dalam opera sabun. Lagu kita berakhir tiba-tiba, tanpa aba-aba dan persiapan. Terdengar sumbang, tapi terdengar indah di saat yang bersamaan. Dan kita bedalih dalam pertemanan. Bahwa segala sesuatu akan tetap berjalan baik, kita masih bisa berteman baik. Tapi siapa sangka justru itu malah semakin mendekatkan kita kepada jurang perpisahan?
Satu minggu sebelum kamu berulang tahun, saya sempat berniat menyiapkan hadiah untuk mu. Saya pernah bilang, saya punya sesuatu untuk diberikan pada mu. Saya sudah menyiapkan kotak hadiah dengan puisi-puisi yang dulu selalu kamu minta saya buatkan. Namun beberapa hari setelahnya, terjadi sesuatu yang membuat kepercayaan diri saya runtuh. Siapa saya sampai harus menyiapkan hadiah yang begitu spesial di hari ulang tahun mu? Saya merasa begitu kecil, merasa bodoh dan kosong. Mengapa selama ini saya begitu lugu dan naif? Masih mengharapkan kembang api kecil yang terkadang kau nyalakan, sementara kamu telah menyiapkan beribu bohlam untuk dinyalakan di ruangan lain?
Bahkan setelah begitu banyak bukti yang menyakitkan, saya tetap tidak bisa meninggalkan dirimu yang semakin menjauh. Sesekali kau bercerita tentang hari-hari mu yang kosong, yang semu, yang tidak sebahagia dulu. Dan saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin disaat kamu bercerita tentang kesedihan mu, saya selalu berusaha memberi dukungan dengan berpura-pura tegar dan bersimpati sementara saya sendiri sudah hampir kehabisan nafas takala air mata hampir selalu menghabisi ruang.
Saya bertahan, entah sampai kapan. Tawaran pelangi silih berganti datang, tapi entah bagaimana saya masih tetap bertahan dibawah hujan yang terus kau turunkan. Menanti hujan berhenti hingga menyisakan bau basah yang menyakitkan. Dan bila pada akhirnya hujan mu tidak mendatangkan pelangi, biar rasa ini terbiaskan oleh cahaya matahari hingga kering tak berbekas.
Sekali lagi, selamat ulang tahun.
Semoga hari-harimu menyenangkan.