Pages

Friday, January 5, 2018

Keluar dari zona nyaman

Apa kau tahu apa itu zona nyaman?

Kalau aku, mendeskripsikan nya sebagai tempat dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa merasa terbebani.

Dan bila kau berada di luar zona nyaman tersebut, apa yang akan kau lakukan?

Kalau aku, aku akan mundur. Menjauh dan akan berusaha mencari jalan untuk kembali pulang. Tapi itu aku yang dulu. Karena sekarang aku sudah tahu, betapa indah rasanya berhasil menaklukan ketakutan tersbesar mu dan bisa membuat langkah melampaui kenyamanan yang selama ini memanjakan mu dalam semu. Dan begini cerita ku:

"Aku mau jadi pendamping maba"
Itu janji ku pada hari terakhir BKM (Bina Karakter Mahasiswa), atau istilah nya 'ospek fakultas'

Bisa dibilang, pendamping maba itu benar-benar 'aku', membina dengan pendekatan interpersonal dan interaksi langsung merupakan hal yang aku sukai sejak dulu.

Tapi, sekali lagi manusia memang hanya bisa berencana.

Hari itu, suatu kejutan tiba tiba hadir. Pertanyaan yang kukira tidak akan pernah datang kepadaku itu seakan memberikan tanya yang lebih besar saat seseorang yang tidak pernah kusangka-sangka tiba tiba melontarkan nya.

"Kamu mau jadi TKP?"

Akan ku perjelas apa itu TKP: Tim Kontrol Pembinaan aka Komisi Disiplin.

Saat itu hatiku langsung berkata: tidak.

Tapi sel-sel otak ku yang selalu menyukai tantangan seakan memberikan impuls untuk menggerakan hati ku. Butuh satu hari, untuk kemudian aku sampai pada keputusan bulat: I'll give it a try.

Tolong digarisbawahi: I'll give it a try

Dan siapa sangka, ternyata Tuhan mengizinkan ku untuk mencoba lebih jauh dari sekedar 'try'.

Menjalani nya bukan lah hal yang mudah, saat kamu benar-benar harus mengeluarkan sekuat tenaga mu untuk melakukan hal yang 'sangat bukan kamu', percayalah, setiap aku menyelesaikan tugas, seakan ada awan mendung yang pergi dari atas kepalaku. Bahkan untuk berpikir jernih pun rasanya sulit, karena hati ini seakan ingin meledak dan mendesak untuk pulang kembali ke zona nyaman nya.

Tapi aku bertahan.

Kegagalan demi kegagalan terus terjadi, tapi setitik keinginan untuk mencoba 'berhasil', telah menyelamat kan ku dari pulang yang terus memanggil.

Karena hanya kamu yang bisa menguatkan dirimu untuk bertahan, hanya dirimu yang tahu batas kemampuan diri, tapi hanya kamu pula yang bisa membat dirimu melampaui batas tersebut.

Aku masih perlu banyak belajar, tapi setidaknya, aku masih memiliki harapan untuk bisa terus melangkah. Percayalah pada setitik kecil harapan itu, hingga pada akhir perjalanan nanti kau akan menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul di awal.

Untuk apa aku disini?

Pantas kah aku berada disini?

Bisakah aku menjalani ini semua?

Karena aku pernah berada disana. Aku pernah dihantui pertanyaan yang sama. Dan kini aku tahu, bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Selalu ada peran yang bisa kau tempati. Selalu ada manfaat yang bisa kau berikan. Karena sekali lagi, Tuhan tidak pernah salah menempatkan.

Berjuanglah,
karena selalu ada akhir yang indah dari setiap sakit dan takut yang berhasil kau lewati.
Sampai saat itu tiba, berjuanglah.
Karena Tuhan tidak pernah salah menempatkan.