Pages

Thursday, January 4, 2018

P E M D I S

Pada awal tahun 2016, saya mengikuti tes psikologi minat bakat di suatu instansi resmi, dan hasilnya kurang lebih seperti ini:
Minat : Sastra, Pelayanan Sosial, Pelayanan Kesehatan
Rekomendasi profesi : Psikologi, Ahli gizi, Dokter
Hati saya langsung mengiyakan begitu membaca hasil tersebut, dugaan saya tentang diri sendiri selama ini ternyata benar.
Setidaknya hasil ini bisa mengklarifikasi hal tersebut.

Kemudian masuklah 2017.

Diawali dengan kebahagian untuk pertama kali nya merasakan liburan panjang kurang lebih 2 bulan, hasil dari jerih payah semester pertama 6 bulan lamanya.
Begitu banyak hal yang terjadi dalam 2 bulan ini, mungkin sepele, tapi rasanya bisa berkumpul bersama keluarga, berada di rumah untuk jangka waktu yang lama terasa sangat indah kala itu. Disitu saya berjanji untuk berusaha keras pula di semester selanjutnya agar bisa menikmati liburan semester genap yang 'katanya' lebih panjang.

Tapi manusia memang hanya bisa berencana.

Awalnya, saya mendaftar karena tertarik dengan deskripsi nya :
"Divisi yang bergerak di bidang pelayanan dan pemeriksaan kesehatan"
Saat itu rasanya sinyal dalam otak saya langsung berbunyi seakan ingin berkata "ini kesempatan untuk meraih mimpi mu!"

Dan jadilah saya menjadi  bagian dari keluarga Pemdis (Pemeriksaan Medis), salah satu divisi di Penmas (Pengabdian Masyarakat) yang dijalani dari, oleh, untuk mahasiswa baru fakultas kedokteran brawijaya kala itu.

Bayangan saya ketika memasuki divisi ini adalah: saya bisa terjun ke masyarakat, membantu memudahkan kehidupan mereka, berinteraksi, dan mengaplikasikan ilmu kesehatan yang sudah saya pelajari.

Pada kenyataannya, tugas saya sebagai pemdis adalah "memfasilitasi mahasiswa untuk terjun langsung dalam melayani masyarakat".  Dan hal ini baru saya sadari di tengah-tengah perjalanan. Artinya, bukan saya yang akan berinteraksi dengan masyarakat, tapi saya yang akan menghubungkan mahasiswa-masyarakat.

Awal nya terasa berat, sangat berat. Rapat hampir setiap hari. Menghadapi tekanan dan tuntutan dari berbagai pihak. Beban antara hati nurani dengan keadaan yang memungkinkan.

Saya ingat kala itu tidur lebih dari 4 jam merupakan sebuah anugerah, dan bisa tetap terjaga di kelas adalah suatu keajaiban.

Dituntut untuk terus bekerja se-detail mungkin, se-solutif mungkin, se-aplikatif mungkin.
Belajar untuk menerima kritik dan menemukan inovasi dari masalah.
Merasakan tangis, tawa, ramai, sepi silih berganti.
Dan mendapatkan sebuah keluarga.

Penmas kami mungkin belum yang terbaik, tapi sungguh kami sudah berusaha yang terbaik.
Kesuksesan tidak dilihat dari hasil yang terlihat, namun jauh dari itu ada proses panjang yang tidak kasat mata, dimana setiap orang yang ada telah memberikan usaha terbaiknya.

Penilaian tidak dilakukan dengan indikator keberhasilan yang tercapai, namun dari senyuman tulus dan tatapan terima kasih yang tidak bisa tertulis di atas kertas.

Terimakasih Pemdis untuk pelajaran, pengalaman, rasa, dan kenangan yang begitu berharga. Semoga tetap seperti ini :)

"Pemdis bukan hanya sebuah divisi, lebih dari itu mencakup kumpulan manusia yang mau belajar, bekerja sama, saling peduli, hinga membentuk sebuah ikatan kuat tapi tidak mengikat, karena di setiap individu nya memiliki potensi untuk menjadi lebih, namun selalu punya ruang untuk kembali pulang dan berkumpul bersama."