Pages

Thursday, January 4, 2018

Seperti itu harusnya laki-laki

Ia yang diam diam selalu memperhatikan ku
Mendengarkan setiap harapan dan mimpi ku
Yang kelak ia wujudkan dengan cara yang aku pun tak duga
Ia yang tidak pernah menanyakan hari hari ku
Tapi menjadi pembaca setia tiap tulisan yang ku buat

Pernah satu malam itu, aku terbangun dalam mata sembab. Semalam suntuk menangisi seseorang yang tidak sepatutnya diberi air mata. Ia menatapku dengan wajah sedih, dan sedikit amarah di mata nya.
"Laki-laki yang baik tidak akan bikin kamu nangis gini."

Ia yang kerap kali berkomentar saat kami dalam perjalanan dan melihat sepasang muda-mudi berbonceng motor:
"Bapak gak mau ngebayangin anak bapak kayak gitu."
"Dulu, waktu belum menikah, ibu mu pernah sakit saat di kampus. Semua temen bapak nyuruh langsung anterin pakai motor bebek bapak ke rumah sakit. Tapi bapak gak mau. Bapak suruh ibu mu naik taksi, bapak ikuti taksi nya dengan motor. Seperti itu harusnya laki-laki saat belum menikah."

Dan ia, yang tiba-tiba datang menelpon "Dani, bapak di depan kos." Hanya beberapa jam setelah aku menelpon nya dalam suara parau, akibat demam yang tidak kunjung turun berhari-hari.

Maaf diri ini belum bisa mewujudkan semua harapan mu
Melakukan hal yang membuatmu sedih dan khawatir
Membuatmu marah dan masih juga selalu merepotkan

Tapi disini aku pun sedang belajar, berusaha menjadi apa yang kau inginkan, berusaha membalas semua kesalahan ku di masa lalu dengan bukti.

Walau aku yakin tidak akan pernah seberapa dengan pengorbanan mu dalam diam selama ini,
sampai kapanpun kau akan selalu menjadi laki-laki nomer satu untukku.